Kisah Mr Kalend Penyulap Pare Kediri Menjadi Kampung Inggris


Ketika menyebut nama Pare, maka ingatan seseorang akan langsung tertuju pada sebuah kota kecil di Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Di kota itulah, ribuan para pelajar dari berbagai daerah di Nusantara dan mancanegara berdatangan saban tahun untuk belajar bahasa asing, khususnya Bahasa Inggris.
Dari perjalanan itulah, Pare—kota yang pernah diteliti antropolog kaliber dunia, Clifford Geertz—kemudian menjelma menjadi nama Kampung Inggris yang cukup terkenal dan disegani. Di sana, puluhan bahkan seratusan lebih pusat-pusat belajar bahasa asing menjamur bak cendawana di musim hujan.
Tempat-tempat pelatihan bahasa itu berdiri bukan di sebuah gedung megah layaknya universitas. Tempat belajar di sana hanya dengan memanfaatkan pelataran rumah warga, serambi masjid, ladang kebun, pondok pesantren, serta ruangan-ruangan yang disekat dan disulap menjadi tempat belajar. Mereka menyatu dengan denyut nadi warga setempat selama bertahun-tahun.
Bukan hanya itu, para jawara tata bahasa asing Pare juga tak henti berlomba untuk menemukan formula dan metoda belajar bahasa asing yang mudah, simple, murah, dan menyenangkan. Tentu saja, mutu dan keahlian masing-masing padepokan bahasa mereka telah teruji semua. Dan sampai saat ini, sudah tak terhitung lagi berapa jumlah para pelajar, sarjana, dan hingga para doktor telah menimba ilmu bahasa di Pare.
Pertanyaannya, siapakah orang yang berjasa besar menyulap Pare hingga menjadi kampung bahasa ternama itu?
Muhammad Kalend Osen. Iya, dialah sosok yang melegenda di Kampung Inggris Pare. Kalend adalah orang pertama kali yang mbabat alas sehingga nama Pare menjadi tersohor sebagai kampung bahasa seperti saat ini.
Lelaki kelahiran 20 Februari 1945 silam ini sebenarnya adalah warga yang lahir di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Di kampung halamannya, ia seorang guru. Namun, rasa hausnya akan ilmu pengetahuan, akhirnya ia merantau ke Tanah Jawa dan berguru kepada sejumlah Kiai di Pondok Pesantren Gontor Ponorogo.
Meski usianya kala itu sudah memasuki 27 tahun, namun bagi Kalend menimba ilmu tak pernah ada batas usianya. Di sana, Kalend tak sampai lulus. Ia hanya mampu mengenyam pendidikan hingga kelas lima Kuliatul Muallimin Al Islamiyah di tengah perbekalannya yang kian menipis. Saat itu, usia dia menginjak 31 tahun.
Sekitar 1976, Kalend disarankan gurunya di Ponpes Gontor untuk menemui KH. Ahmad Yazid Ibnu Thohir, seorang kiai besar di Dusun Singgahan, Pelem, Pare, Kediri. Kalend diminta mengabdikan diri kepada Kiai Yazid agar mendapatkan keberkahan.
Sosok Kiai Yazid dalam literatur disebut sebagai pengasuh Pondok Darul Falah. Selain itu, Kiai Yazid juga dikenal menguasai sembilan bahasa asing. Dalam catatan sejarah, Kiai Yazid kerap menjadi pendamping Presiden Soekarno sebagai penerjemah ketika ada tamu-tamu asing. Tak hanya itu, ia juga pernah menjadi teman diskusi seorang antropolog kaliber dunia bernama Clifford Geertz.
Menariknya, Kalend tinggal di kediaman Kiai Yazid bukan menghabiskan waktunya untuk belajar bahasa. Melainkan, lebih banyak membantu bersih-bersih kediaman dan pondok pesantren Kiai Yazid. Namun, ketulusan hati Kalend inilah yang membuat derajatnya terangkat. Ilmu-ilmu yang ia pelajari selama di Gontor memancar kemilau.
Suatu hari, dua mahasiswa semester akhir IAIN Sunan Ampel, Surabaya datang ke Pare dan ingin berguru Bahasa Inggris kepada Kiai Yazid. Mereka belajar lantaran akan menjalani ujian akhir bahasa Inggris di kampusnya demi meraih gelar sarjana. Namun karena Kiai Yazid sedang keluar daerah, istri Kiai Yazid menyarankan untuk belajar Bahasa Inggris kepada Kalend.
Kalend memberanikan diri untuk mengajar dua mahasiswa itu, walau ia sadar belum pernah mengenyam bangku kuliah. Selama lima hari di Masjid Darul Falah itulah, Kalend menghabiskan waktu untuk membahas 350 soal dari dua mahasiswa itu. Hasilnya, sungguh di luar dugaan. Dua mahasiswa itu terkesima dengan kecerdasan Kalend.
Dari situlah, nama Kalend tersebar dari mulut ke mulut. Banyak santri yang kemudian berguru kepada Kalend. Kalend mengajari santri-santrinya di serambi masjid. Semua santrinya yang belajar tanpa biaya.
Kalend lantas mempersunting gadis desa setempat. Namun, semangatnya menebarkan ilmu bahasa tak padam. Ia lantas memberi nama forum “pengajiannya” itu BEC, yakni Basic English Course. Artinya kursusan bahasa Inggris tingkat dasar. Kalend sengaja memakai nama “basic” yang berarti “dasar”. Tujuannya, agar setiap santri lulusan BEC tetap memiliki sikap tawaduk dan tak sombong, betapapun telah menguasai bahasa tingkat mahir sekalipun.
Ajaran inilah yang akan terus diwariskan Kalend kepada ratusan ribu murid-muridnya yang tersebar di pelosok Tanah Air. BEC, memang sebuah kursusan bahasa. Namun, di dalamnya terkandung ajaran kerendahhatian.

Postingan terkait:

5 Tanggapan untuk "Kisah Mr Kalend Penyulap Pare Kediri Menjadi Kampung Inggris"

  1. ayam bangkok aduan Live terbesar di indonesia hanya di AGEN BOLAVITA
    Segera Bergabung Di Bolavita Agen Taruhan Online Terpercaya
    Minimal Deposit Hanya 50RB
    Tersedia Berbagai Permainan Terkenal : + Sabung Ayam
    + Casino Online
    + Bola Tangkas
    + Taruhan Bola Online / Sportsbook
    + Poker Online
    + Tembak ikan
    + Slot Game
    + Togel SGP / HK / KL.

    Info Lengkap Hubungi Customer Service Kami ( 24 JAM ONLINE ) :

    BBM: BOLAVITA
    WeChat: BOLAVITA
    WA: +62812-2222-995
    Line : cs_bolavita

    ReplyDelete
  2. Happy Weekend para member setia AGENS128, oke gengs kali ini kami akan memberikan kepada kalian semua kembali untuk PROMO TERHITS 2019 INI YAITU PROMO BONUS 5% setiap hari yang akan kami berikan kepada kalian semua member setia kami, jadi untuk kalian yang mau bermain dan mendapatkan bonusnya kalian bisa mendaftarkan diri kalian sekarang juga, klaim bonus nya dan menangkan puluhan juta rupiah hanya bersama kami AGENS128.

    Untuk keterangan lebih lanjut, segera hubungi kami di:
    BBM : D8B84EE1 atau AGENS128
    WA : 0852-2255-5128

    Ayo tunggu apalagi !!

    ReplyDelete
  3. Promo S128 Agen Spesial Untuk Anda pecinta permainan

    ReplyDelete

Kisah Inspiratif Dari Seorang Pecandu Narkoba

Aldi Novrudi, yang dulunya seorang pecandu narkoba kini berhasil berubah, bahkan menjadi konselor bagi para pecandu la...